Tuhan, aku tak pernah mengenal apa itu cinta. Terutama yang dibilang “ Cinta Anak Adam ”
Yang katanya mampu membuat banyak orang mengalau, bersedih dean melakuakan hal yang bodoh hanya karna CINTA. Tapi itu dulu sebelum aku mengenal siapa dirimu dan kita, sebelum kau masuk ke dalam hidupku menyapa hariku dan menghiasi hatiku. Mungkin diawali dengan kekosongan, sedikit jahat caraku melupakan luka dengan memilikimu, menjadikanmu pelarian sakit hatiku dengan masa laluku.
Tuhan, dia tak pernah menjoba menyembuhkan lukaku ataupun menjadi malaikat. Dia datang secara biasa, tak istimewa bahkan tak pernah ku duga dan ku harapkan. Namun hadirnya membuatku melupakan semua sakitku, entah semua begitu mudah ku lupakan saat aku bersamanya.
Terima kasih Tuhan kau izinkan aku memilikinya dengan cara yang sederhana, ku akui dia mampu membuatku merasakan hal yang dulu aku bilang “bodoh”, dia mampu menyentuh hatiku yang hampir beku. Mengajarkanku kesungguhan mencinta, menyayangi dengan ketulusan dan merindu dalam kejauhan.
Tak pernah mampu ku jelaskan tentang dirinya, memang tak seperti pada umumnya. Aku tak bisa bertemu setiap saat, jangankan bertemu menyatukan sorotan mata dalam titik fokus yang sama pun tak mampu. Aku hanya bisa bertemu dalam do’a yang suci, menjelma menjadi malaikat penjaga, menyentuh dalam setiap rintihan dan memeluk dalam harapan.
Memang apa yang kurasa tak pernah sama, namun semua punya keistimewaan dan keindahan.
Cara-Mu mengajarkanku merindu dalam jarak dan mencintai dalam do’a membuatku menyadari cinta ini begitu indah, begitu agung dan begitu sempurna.
Semuanya tak pernah berjalan mulus, Engkau selalu menguji disetiap keteguhan hati, entah apa yang menjadi takdir-Mu dan rencana-Mu kelak. Tuhan, bolehkan bila ku rasakan ini terlalu berat, terlalu sulit dan terlalu menyakitkan ?
Aku hanya takut melangkah. karena sesungguhnya belum tentu orang yang ku sayangi adalah jodohku kelak, orang yang kucintai akan selamanya menjadi milikeku dan mendampingiku. Engkau tau apa yang kurasakan. kuyakin bukan aku saja yang merasakan, dia pun begitu. Bukan aku mengeluh atau menunjukan kekalahan, aku pun manusia yang mampu merasakan sedih. Wajarkan Tuhan bila ku rasakan itu dalam hidupku?
Namun ku yakin Kau selalu ada dalam do’a dan langkahku. Mengiringi setiap perjalanku menelusuri keagungan-Mu. Aku rela melepaskanya bila itu yang terbaik. Melepaskan cintaku yang sudah mengajarkan banyak hal dan mewarnai setiap lembaran hariku. Namun, aku belum sanggup bila harus kehilangan cintanya, walau ku tau kehilangan cintanya bukan berati kehilangan cinta-Mu.
:')
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusalah bagus apa nya sih orng biasa aja kok bi
BalasHapus