Di saat semua berakhir dengan
begitu mudah, di saat rasaku masih seutuh nya milikmu dan di saat sebuah
perjuangan harus terhenti tanpa tahu apa alasan sebenar nya. Aku mulai
mempertanyakan arti dari kedekatan yang masih kita ciptakan, dari sebuah
perhatian kecil yang masih tergambar dengan jelas.
Semua berakhir tapi tidak dengan
rasaku. Singkat memang sungguh sangat singkat namun tidak dengan perasaanku
untukmu. Aku masih menyimpan dengan rapih segala sesuatu yang berhubungan
denganmu. Tak pernah kucoba untuk lupakan segalanya semudah saat kau katakan
ingin akhiri semuanya. Tanpa pernah memberi kesempatan agar telingaku mendengar
alasanmu, meninggalkan sejuta tanya dalam hatiku yang tak tersampaikan karena
memang sepertinya kau yang enggan untuk
menjelaskan atau mungkin kau terlalu muak untuk memberitahukan semuanya
tentang rasamu untukku?
Aku mengenalmu tapi aku tak
pernah sampai untuk meraba hatimu yang terlalu jauh, aku menyayangmu tapi aku
tak pernah tahu apakah sebenarnya rasamu terhadapku. Terlalu lemah hingga aku
enggan mempertanyakan segalanya tentang yang kau rasa untukku. Hingga aku
terlupa dengan semuaya, dengan pertanyaan yang masih ingin sekali ku lontarkan
kepadamu hingga datang pertanyaan-pertanyaan baru yang akhirnya akan menjadi
pertanyaan yang tak berujung dan tak terjawab.
Aku masih menjadikan dirimu
sebagai salah satu hal yang terindah yang memaksaku untuk terus bernapas dan
bertahan. Tapi kau menjauh terus menjauh dariku. Aku bahagia saat sebuah
kalimat singkat ku baca di ponselku yang menjelaskan kau ingin menjadikan ku
penghias harimu kelak. Aku bahagia saat menjalani segala sesuatu bersamamu
tanpa ada kejelasan lagi. Namun, aku tak bisa tenang menjalani semuanya
bersamamu, menjalankan hubungan yang entah apa namanya namun selalu dengan rasa
yang sama. Masih sama, belum berubah, entah belum atau akan atau malah takkan
berubah.
Aku mulai lelah saat harus
bertahan menyayangmu tapi kau tak pernah melihat, aku mulai lelah menunggumu
yang tak pernah peka terhadap rasaku. Apa yang harus ku lakukan agar kau tahu,
agar kau paham akan rasaku, akan cintaku yang masih untukmu.
Pernahkah kau coba bayangkan.
Disini aku bertahan untukmu. Disini aku menjaga hatiku untukmu. Disini ku
diam-diam mencari kabarmu. Disini aku masih menunggumu. Disini ku coba jelaskan
perasaanku agar kau tahu semua perasaanku yang tak pernah kau tahu atau memang
tak ingin kau ketahui. Apapun itu aku hanya ingin meluapkan perasaanku yang
selama ini hanya bersarang dihatiku tanpa ada yang mengetahui selain Tuhanku.
Pernahkah kau pikir seberapa
hancur hatiku saat dengan mudah kau katakan perkataan yang dengan polosnya
namun amat menusuk. Pernahkah kau menoleh kepadaku sedikit saja. Pernahkah kau
peka terhadap rasaku sekali saja. Pernahkah terbersit dalam angganmu bahwa saat
itu aku merindukanmu. Pernahkah kau sangka aku yang begitu sulit mengeluarkan
air mata nampu meneteskannya karenamu dengan mudahnya. Ya hanya karenamu.
Pernahkah kau tahu maksud hatiku yang inginkan engkau bukan yang lain.
Pernahkah kau sadari aku menerimamu dengan segala kekuranganmu yang bagimu itu
adalah alasanmu terbesarmu untuk meninggalkanmu. Pernahkah kau sadar aku tak pernah minta banyak hal aku
hanya ingin kau peka akan rasaku yang masih untukmu. Yang masih terus
mencintamu dan menutup hatiku untuk yang lain. Walaupun ku tahu kita tak pernah
ada hubungan special lagi. Pernahkah kau sangka bahwa kamu adalah cinta
pertamaku yang mengajarkanku banyak hal meskipun kau bukan pacar pertamaku.
Salahkah jika aku masih menyimpan
rasaku untukmu? Salahkah jika aku masih menginginkanmu? Salahkah aku yang masih
merindukanmu? Salahkah jika aku masih menyebut namamu dalam doa kecilku? Salahkah
jika aku masih mengundang wajahmu dalam malamku? Dan salahkan jika aku berharap
aku dan kamu akan menjadi kita lagi pada suatu saat nanti?
Aku mulai sadar. Sekeras apapun
ku jelaskan rasaku yang masih untukmu. Itu takkan mengubah segalanya tentangmu.
Itu takkan membuatmu menyadari segalanya tentang rasaku.
Hingga akhirnya waktu yang membuatku
tersadar dan membuatku menyerah menghadapimu. Bukan karena aku yang berhenti
mempertahankanmu namun sepertinya kau yang selalu berusaha melepaskannya disaat
aku mencoba untuk mempereratnya. Disetiap ku mendekat satu langkah kau selalu
menjauh dua langkah. Disetiap ku katakan apapun itu aku akan tetap menerimamu
namun selalu kau pertegas kau tak pantas untukku. Bukan kau yang tak pantas
untukku. Namun akulah yang tak pantas untukmu dengan segala kekurangan yang aku miliki dan aku
yang belum mampu menerimamu seutuhnya. Ku yakin kaukan temui yang jauh sempurna
dariku dan mampu menerimamu tak seperti diriku.
Akhirnya aku terbiasa, tanpa ada
kamu dalam hariku, tanpa ada kamu yang memenuhi otakku dan tanpa kamu disetiap
perkataanku. Aku mulai tak mengerti dengan rasaku. Terkadang begitu menggebu
untukmu namun dengan cepat kupadamkan. aku rasa ku mulai lelah untuk terus
mempertahankan semua. Aku mulai merasa kau begitu terusik dengan diriku
diharimu. Hingga akhirnya aku berdoa agar kau bahagia dengan keputusanmu dan
tanpa aku.
Mungkin aku telah lupakanmu. Hal
yang sungguh tak pernah ku lakukan dan tak pernah mau aku lakukan. Atau aku
mulai mencintaimu dalam diam hingga benar-benar ku tutup mulutku agar tak
sedikitpun teringat tentangmu. Hingga aku benar-benar lelah dan kau benar-benar
tak menoleh lalu disitulah aku benar-benar akan lupakanmu. Dari hariku, dari
hidupku dan hari hatiku.
Percayalah, aku tak pernah mau
untuk lakukan ini. Namun waktu dan keadaan yang memaksaku melakukannya. Dan
tentunya dirimu yang membuatku lakukan ini. Hanya karena satu hal……
Ku rasa kau begitu terusik dengan
hadirnya diriku diharimu.