Kamis, 21 November 2013

Selamat ulang tahun cinta pertama


Haaaii kamu cinta pertamaku, apakabar kamu disana? Bagaimana dengan aktifitas barumu yang tak pernah aku ketahui? Masihkah kau ingat aku sayang?
Ahh! Sudahlah tak perlu aku tanyakan hal yang takan kau jawab.

Tak terasa sudah setahun yang lalu. Aku masih begitu ingat kejadian tahun lalu. Ketika aku dengan bodohnya begadang hanya untuk bisa mengucapkan “Selamat Ulang Tahun” tepat pukul 00.01 padamu. Ketika aku harus menunggu dan memegang handphoneku yang tak terlepaskan dari telinga hanya untuk mendengar jawaban dari mu. Tak terasa, 60 menit berlalu dan menginggalkan (mungkin) 20 panggilan tak terjawab di handphonemu dan sebuah pesan singkat yang aku kirimkan kepadamu ketika sudah hampir hilang mood ku untuk membayangkan kau menerima teplonku dengan sebuah kegembiraan ketika aku bisa mengucapkan “Selamat Ulang Tahun” kepadamu untuk pertama kali. Ketika aku bisa merasakan kegilaan ketika harus begadang hanya untuk mengucapkan hal yang begitu lazim terdengar  namun (katanya) amat berkesan.
Aku hampir tak habis pikir. Kau begitu tega tak mengubris  panggilan yang masuk ke handphonemu untuk momen yang hanya terjadi setahun sekali. Aku hampir begitu kesal terhadapmu ketika harus kau abaikan aku. Aku hampir begitu marah ketika tak kudapatkan suaramu dari ujung handphoneku dengan sebuah kekecewaan  yang amat besar.

Ahhh! Bodohnya aku yang melakukan hal seperti itu kepadamu. Yang jelas-jelas untuk (sekedar) sms-an pun adalah hal yang langka. Namun ketika aku mulai lupakan kejadian ketika aku lakukan hal bodoh itu. Kau kirimkan pesan singkatmu yang bertuliskan “maaf, handphoneku tertinggal dikelas kemarin.”
Hampir aku banting handphone yang aku genggam. Dengan meninggalkan pertanyaan kenapa harus tertinggal? Tidak tahukah kamu bagaimana aku ingin mengucapkan “Selamat Ulang Tahun” kepadamu tepat pukul 00.001? Tidak tahukan kamu hal bodoh yang aku lakukan semalaman hanya menyisakan sebuah penyesalan yang rasanya tak ingin aku ulangi lagi? Dan tidak terbanyangkan-kah olehmu (betapa) aku ingin menjadi yang pertama yang mengucapakan “Selamat Ulang Tahun” kepadamu? Hanya sekedar menelponmu karena tak mungkin kita bertemukan? Lalu kenapa….?
Ahhh! Sudahlah lagi pula itu sudah setahun yang lalu. Dan lagi pula biarkan itu menjadi salah satu kenangan untukku.

Dan tak terasa sekarang sudah setahun kemudian. Berarti sekarang adalah Ulang Tahun mu kan? 07 November tepatnya. Ohh iyaa, aku (tak akan) lupa akan tanggal itu. Yaaa tepat setahun yang lalu aku lakukan hal bodoh itu. Sungguh aku tak tahu apa yang harus aku lakukan kali ini. Tak mungkin ku lakukan hal yang sama seperti tahun lalu. Sekarang, untuk membalas pesan singkatmu yang (jarang) kau kirim untukku pun aku bingung harus membalas apa. Walaupun hanya sekedar menanyakan kabarku. Tidak mungkin kan kalau aku menelponmu tengah malam lagi seperti tahun lalu? Untuk membalas pesan singkat mu pun rasanya jemariku terlalu kaku. Bukan karena kau mengganggu, tapi  karena aku takut perasaanku tak terkendalikan saat aku harus berkomunikasi denganmu. Walau sesungguhnya aku (sangat) ingin.

Aku menulis pesan ini. Tak berharap banyak agar kau mengubrisnya. Aku hanya ingin meluapkan perasaanku saja. Dan pastinya lewat pesan ini aku akan mengucapkan “Selamat Ulang Tahun” kepadamu.
Mungkin kurang sopan atau apalah. Karena nyatanya aku tak kuasa untuk menggerakan jemariku menekan setiap huruf untuk mengukirkan kata-kata yang seperti dulu aku lakukan. Bahkan sampai menekan tombol-tombol nomer yang bertujuan ke handphonemu. Sungguh, aku sangat ingin bisa mengucapkannya langsung padamu. Walau lagi-lagi tak dapat ku lihat dirimu dengan segala (ku akui) posananya. Bahkan aku masih begitu hafal dengan wajahmu yang katanya sulit dibedakan dengan kembaranmu itu. Apakah kau mengharapkan ucapan dariku? Apakah kau ingin mendengar do’a-do’a yang ku ucapkan secara langsung untuk mu? Terbersitkah tentang ku dalam benakmu ketika tau kau dapatkan ucapan dariku sama seperti teman-temanmu pada hari itu?

Dan ketika kau mengirimkan pesan singkat seperti ini “Boleh ganggu untuk telpon” aku sangat ingin untuk membalas pesanmu walau hanya “silahkan.” Namun jemariku terlalu kaku untuk mengetik huruf S-I-L-A-H-K-A-N. bodohnya aku yang (terlalu) menjaga perasanku ini. Sudahlah! Kembali ketujuan awal aku mengetik pesan ini. Oke, akan ku katakan. Sungguh aku tidak tahu apa yang harus aku ketik kali ini. Huuuft …. Bismillah ……

“Selamat ulang tahuun, semoga panjang umur, sehat selalu, dimudahkan rezki dan segala urusanmu. Dan diusiamu yang semakin dewasa ini semoga kamu semakin dekat kepada-Nya dan mendapat ridha-Nya. Maaf jika harus dengan cara ini ku sampaikan ucapanku dan maaf kalau aku mengucapkan tidak tepat dengan tanggal Ulang Tahun mu. Sungguh sangat basi ku katakan semuanya. Tolong jangan  marah, sungguh aku telah lama mengetik tulisan ini bahkan sebelum hari Ulang Tahun mu, hanya saja aku belum ada waktu mengepost tulisan ini. Sukses dunia akhirat untuk kamu. Semoga kamu selalu berada dilindungan Allah SWT. Aamiin yaa robbalaalamiin”

Jika kau membaca tulisanku ini. Aku mohon maaf karena dengan cara ini aku ucapkan kepadamu. Dengan sebuah rapalan do’a kecil yang aku kirimkan berharap mampu menyampaikan dan memelukmu dengan tangan-tangan Tuhan. Dan, jika kau tak membacanyapun aku sudah bilang. Aku tak berharap banyak agar kau mengubris pesanku ini.
Sekali lagi……. “SELAMAT ULANG TAHUN KAMU, CINTA PERTAMAKU”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar