Haaaii kamu cinta pertamaku,
apakabar kamu disana? Bagaimana dengan aktifitas barumu yang tak pernah aku
ketahui? Masihkah kau ingat aku sayang?
Ahh! Sudahlah tak perlu aku
tanyakan hal yang takan kau jawab.
Tak terasa sudah setahun yang
lalu. Aku masih begitu ingat kejadian tahun lalu. Ketika aku dengan bodohnya
begadang hanya untuk bisa mengucapkan “Selamat Ulang Tahun” tepat pukul 00.01
padamu. Ketika aku harus menunggu dan memegang handphoneku yang tak terlepaskan
dari telinga hanya untuk mendengar jawaban dari mu. Tak terasa, 60 menit
berlalu dan menginggalkan (mungkin) 20 panggilan tak terjawab di handphonemu
dan sebuah pesan singkat yang aku kirimkan kepadamu ketika sudah hampir hilang
mood ku untuk membayangkan kau menerima teplonku dengan sebuah kegembiraan
ketika aku bisa mengucapkan “Selamat Ulang Tahun” kepadamu untuk pertama kali.
Ketika aku bisa merasakan kegilaan ketika harus begadang hanya untuk
mengucapkan hal yang begitu lazim terdengar
namun (katanya) amat berkesan.
Aku hampir tak habis pikir. Kau
begitu tega tak mengubris panggilan yang
masuk ke handphonemu untuk momen yang hanya terjadi setahun sekali. Aku hampir
begitu kesal terhadapmu ketika harus kau abaikan aku. Aku hampir begitu marah
ketika tak kudapatkan suaramu dari ujung handphoneku dengan sebuah
kekecewaan yang amat besar.
Ahhh! Bodohnya aku yang melakukan
hal seperti itu kepadamu. Yang jelas-jelas untuk (sekedar) sms-an pun adalah
hal yang langka. Namun ketika aku mulai lupakan kejadian ketika aku lakukan hal
bodoh itu. Kau kirimkan pesan singkatmu yang bertuliskan “maaf, handphoneku tertinggal dikelas kemarin.”
Hampir aku banting handphone yang
aku genggam. Dengan meninggalkan pertanyaan kenapa harus tertinggal? Tidak
tahukah kamu bagaimana aku ingin mengucapkan “Selamat Ulang Tahun” kepadamu
tepat pukul 00.001? Tidak tahukan kamu hal bodoh yang aku lakukan semalaman
hanya menyisakan sebuah penyesalan yang rasanya tak ingin aku ulangi lagi? Dan
tidak terbanyangkan-kah olehmu (betapa) aku ingin menjadi yang pertama yang
mengucapakan “Selamat Ulang Tahun” kepadamu? Hanya sekedar menelponmu karena
tak mungkin kita bertemukan? Lalu kenapa….?
Ahhh! Sudahlah lagi pula itu
sudah setahun yang lalu. Dan lagi pula biarkan itu menjadi salah satu kenangan
untukku.
Dan tak terasa sekarang sudah
setahun kemudian. Berarti sekarang adalah Ulang Tahun mu kan? 07 November
tepatnya. Ohh iyaa, aku (tak akan) lupa akan tanggal itu. Yaaa tepat setahun
yang lalu aku lakukan hal bodoh itu. Sungguh aku tak tahu apa yang harus aku
lakukan kali ini. Tak mungkin ku lakukan hal yang sama seperti tahun lalu.
Sekarang, untuk membalas pesan singkatmu yang (jarang) kau kirim untukku pun
aku bingung harus membalas apa. Walaupun hanya sekedar menanyakan kabarku.
Tidak mungkin kan kalau aku menelponmu tengah malam lagi seperti tahun lalu?
Untuk membalas pesan singkat mu pun rasanya jemariku terlalu kaku. Bukan karena
kau mengganggu, tapi karena aku takut
perasaanku tak terkendalikan saat aku harus berkomunikasi denganmu. Walau sesungguhnya
aku (sangat) ingin.
Aku menulis pesan ini. Tak
berharap banyak agar kau mengubrisnya. Aku hanya ingin meluapkan perasaanku
saja. Dan pastinya lewat pesan ini aku akan mengucapkan “Selamat Ulang Tahun”
kepadamu.
Mungkin kurang sopan atau apalah.
Karena nyatanya aku tak kuasa untuk menggerakan jemariku menekan setiap huruf
untuk mengukirkan kata-kata yang seperti dulu aku lakukan. Bahkan sampai
menekan tombol-tombol nomer yang bertujuan ke handphonemu. Sungguh, aku sangat
ingin bisa mengucapkannya langsung padamu. Walau lagi-lagi tak dapat ku lihat
dirimu dengan segala (ku akui) posananya. Bahkan aku masih begitu hafal dengan
wajahmu yang katanya sulit dibedakan dengan kembaranmu itu. Apakah kau
mengharapkan ucapan dariku? Apakah kau ingin mendengar do’a-do’a yang ku
ucapkan secara langsung untuk mu? Terbersitkah tentang ku dalam benakmu ketika
tau kau dapatkan ucapan dariku sama seperti teman-temanmu pada hari itu?
Dan ketika kau mengirimkan pesan
singkat seperti ini “Boleh ganggu untuk
telpon” aku sangat ingin untuk membalas pesanmu walau hanya “silahkan.” Namun jemariku terlalu kaku
untuk mengetik huruf S-I-L-A-H-K-A-N. bodohnya aku yang (terlalu) menjaga
perasanku ini. Sudahlah! Kembali ketujuan awal aku mengetik pesan ini. Oke,
akan ku katakan. Sungguh aku tidak tahu apa yang harus aku ketik kali ini.
Huuuft …. Bismillah ……
“Selamat ulang tahuun, semoga panjang umur, sehat selalu, dimudahkan
rezki dan segala urusanmu. Dan diusiamu yang semakin dewasa ini semoga kamu
semakin dekat kepada-Nya dan mendapat ridha-Nya. Maaf jika harus dengan cara
ini ku sampaikan ucapanku dan maaf kalau aku mengucapkan tidak tepat dengan
tanggal Ulang Tahun mu. Sungguh sangat basi ku katakan semuanya. Tolong
jangan marah, sungguh aku telah lama
mengetik tulisan ini bahkan sebelum hari Ulang Tahun mu, hanya saja aku belum
ada waktu mengepost tulisan ini. Sukses dunia akhirat untuk kamu. Semoga kamu
selalu berada dilindungan Allah SWT. Aamiin yaa robbalaalamiin”
Jika kau membaca tulisanku ini.
Aku mohon maaf karena dengan cara ini aku ucapkan kepadamu. Dengan sebuah
rapalan do’a kecil yang aku kirimkan berharap mampu menyampaikan dan memelukmu
dengan tangan-tangan Tuhan. Dan, jika kau tak membacanyapun aku sudah bilang.
Aku tak berharap banyak agar kau mengubris pesanku ini.
Sekali lagi……. “SELAMAT ULANG
TAHUN KAMU, CINTA PERTAMAKU”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar